Thariqat ( tarekat )

Thariqah ( tarekat )

1. Pengertian Thariqah

Perkataan tarekat secara harfiyah berasal dari bahasa arab ath Thariq (الطريق) yang berarti “jalan”. Dalam kamus Arab-Indonesia karya Prof. H. Mahmud Yunus, dijelaskan bahwa Thariqah ( طرائق, طريقة) mempunyai arti perjalanan hidup, hal, madzhab atau metode.[1] Dalam hal ini, tarekat (Thariqah) berarti jalan atau madzhab atau metode yang ditempuh oleh para sufi untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati ajaran-ajaranNya.

Annemarie Schimel menggambarkan Tarekat sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab menurut beliau bahwa jalan utama disebut dengan syar’ sedangkan anak jalan disebut dengan tariq. Pendidikan mistik hanya cabang dari jalan utma yang terdiri atas hukum Ilahi (syariat), tempat berpijak bagi setiap muslim.[2]

Al Syekh Muhammad Amin Kurdi mendefinisikan tarekat sebagai berikut:
الطريقة هي العمل بالشّريعة والأخذ بعزئمها والبعد عن التساهل فيما لا ينبغي التساهل فيه
Artinya: “ Tarekat adalah pengamalan syariat dan (dengan tekun) menjalankan ibadah dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah pada apa yang memang tidak boleh dipermudah”.

الطريقة هي إجتناب المنهيات ظاهرا و باطنا و إمتثال الأوامر الإلهية بقدر الطاقة
Artinya: “ Tarekat adalah menjauhi larangan-larangan baik yang dzahir maupun yang bathin dan menjunjung perintah-perintah Tuhan menurut kadar kemampuan”.

الطريقة هي إجتناب المحرّمات والمكرهات وفضول المباحات وأداء الفرئض ومااستطاع من النوافل تحت رعاية عارف من أهل النهايات
Artinya: “ Tarekat adalah menghindari yang haram dan makruh dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan serta hal-hal yang sunnah sebatas kemampuan dibawah seorang arif dari ahli nihayah”.[3]

Menurut L. Massignon yang pernah mengadakan penelitian kehidupan tasawuf di berbagai Negara Islam, menarik kesimpulan bahwa istilah tarekat mempunyai dua macam pengertian:
a.Tarekat (thariqah) yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al maqamat” dan “Al Ahwal”. Pengertian ini menonjol sekitar abad ke IX dan ke X masehi.
b.Tarekat (thariqah) yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh syekh yang menganut suatu aturan thariqah tertentu. Pengertian ini menonjol sesudah abad ke IX masehi.[4]

Dengan demikian, maka pengrtian tarekat (thariqah) dapat dilihat dari dua sisi:
1. Tarekat sebagai pendidikan kerohanian yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalani kehidupan tasawuf untuk mencapai tingkatan tertentu. Tarekat dalam artian ini adalah dari sisi amaliyah.
2. Tarekat sebagai sebuah perkumpulan atau organisasi yang didirikan menurut aturan yang telah ditetapkan oleh seorang syekh yang menganut suatu aliran  tarekat tertentu. Maka dalam organisasi itulah seorang syekh mengajarkan amalan-amalan (tasawuf) menurut aliran tarekat yang dianutnya, kemudian kemudian diamalkan oleh para muridnya secara bersama-sama disuatu tempat yang disebut ribath, zawiyah atau taqiyah. Gurunya disebut Mursyid atau Syaikh dan wakilnya disebut Khalifah.[5]

Tarekat terbagi dua :
1. Tarekat wajib yaitu syariat yang berbentuk teori kemudian diamalkan sungguh-sungguh. Contoh: bertarekat dalam shalat maknanya kita belajar ilmu tentang shalat kemudian melaksanakan shalat seperti yang kita pelajari.
2. Tarikat sunat. Seperti tarekat Alawiyah, Satariah, Qadariah, Naqsabandiyah, Muhammadiyah dan lain-lain, yaitu kita mengamalkan disiplin wirid-wirid,
shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah saw.

2. Dasar dan tujuan tarekat

a. Dasar thariqah
Mengenai dasar-dasar tarekat disebutkan dalam firman Allah surat Al Jin ayat 16 yang berbunyi:
وَأَلَّوِ اسْتَقمُوْا عَلىَ الطَّرِيْقَةِ لأَسْقَيْنَهُمْ مَآءً غَذَقًا
Artinya:
“ Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam) dengan benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak).” (QS. Al Jin: 16)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa, dengan menempuh jalan yang lurus yang benar secara konsisten, maka manusia dijanjikan oleh tuhan akan memperoleh karunia hidup bahagia yang tiada terkira. Hidup bahagia ialah hidup sejati yang dalam ayat tersebut di atas di umpamkan dengan air yang melimpah ruah.

Dan hadist Nabi Muhammad SAW:
“ Ali berkata: saya bertanya (kepada Rasulullah): “ ya Rasulullah jalan (tarekat) apakah yang mendekatkanmu kepada Allah SWT?” Rasul menjawab: “ Dzikrullah”.
Berdasarkan keterangan hadits di atas sudah jelas bahwa tarekat adalah suatu cara untuk menempuh jalan yang pada akhirnya akan mengenai dan merasakan adanya Tuhan dan keadaan dimana seorang sufi dapat melihat tuhan dengan jalan mata hatinya.[6]

b. Tujuan thariqah
Tujuan tarekat adalah mempelajari kesalahan-kesalahan pribadi, baik dalam melakukan amal ibadah atau dalam mempergauli manusia dalam masyarakat dan memperbaikinya, pekerjaan ini dilakukan oleh seorang mursyid yang pengetahuan dan pengalamannya jauh lebih baik, dari pada murid yang akan diasuhnya dan dibawa kepada perbaikan-perbaikan yang dapat menyempurnakan keislamannya dan memberikan kebahagiaan dalam menempuh jalan kepada Tuhan. Oleh karenanya kesalahan murid itu tidak sama maka perbaikan-perbaikan yang diciptakan oleh ahli thariqah itu bermacam-macam adanya.[7]

Menurut Syaikh Sholeh Basalamah, thariqah pada hakikatnya ialah mengajak manusia supaya bisa memanfaatkan waktu untuk selalu berdikir kepada Allah. Menurut Beliau tujuan utama thariqah adalah mengajak umat islam untuk berdzikir kepada Allah, karena beberapa kurun waktu setelah ditinggalkan Rasulullah umat islam mulai jauh dari dzikir, padahal Al Qur’an memerintahkan kita untuk senantiasa berdzikir.
Menurut Khalil. A. Bamar bahwa tujuan Thariqat adalah mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah, agar bisa mencapai tersebut maka penganutnya harus mempelajari kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuatnya, kemudian melakukan perbaikan yang selanjutnya minta ampun kepada Allah.[8]

Adapun tujuan thariqah menurut Anggaran Dasar Jamiyah Ahli Thariqah adalah sebagai berikut:
1. Mengusahakan berlakunya syariat Islam zahir dan batin dengan berhaluan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.
2. Mempergiat dan meningkatkan amal saleh zahir dan batin menurut ajaran ulama shalihin dengan bai’at shalihah.
3. Mengadakan dan menyelenggarakan pengajian khususi atau tawajuhan (mujalasatidz dzikr)
3. Sarana dan prasarana pendidikan Thariqah

a. Tazkiyatul nafsi
Tazkiyatul nafsi berarti penyucian jiwa. Upaya pembersihan diri itu secara umum dilakukan dengan melalui tiga jenjang, pertama, pengosongan sifat-sifat tercela (takhalli), kedua, pengisian dengan sifat-sifat terpuji (tahalli), dan akhirnya mencapai kejernihan hati, sebab telah berada dalam satu garis dengan Allah (tajalli).[9]

1. Takhalli

Takhalli adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang sufi. Takhalli adalah usaha membersihkan diri dari semua perilaku yang tercela, baik maksiat batin maupun maksiat lahir seperti hasad (dengki), hiqd (rasa mendongkol), su’u al zann (buruk sangka), takabur (sombong), ‘ujub (membanggakan diri), riya’ (pamer), bukhl (kikir), ghadab (pemarah).[10] Suma’ (cari nama), hub al mall (cinta harta), ghibah (pengumpat), namimah (bicara dibelakang orang), kizb (dusta), khianat (munafik).[11]
Firman Allah dalam surat Asysyamsi ayat 9-10:
قد أفلح من زكاها و قد خاب من دساها (الشمس :
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Takhalli juga berarti melepaskan diri dari ketergantungan kepada kelezatan hidup dunia dengan melenyapkan dorongan hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan.[12]

2.Tahalli

Setelah langkah pembersihan ini (takhalli), maka seorang yang memasuki kehidupan tasawuf selanjutnya memasuki tahap tahalli. Tahalli adalah menghiasi diri dengan jalan membiasakan sifat dan sikap yang baik, membina pribadi agar berakhlak mulia.[13] Adapun sikap mental dan perbuatan yang baik yang sangat penting untuk diisikan kedalam jiwa manusia menurut Al Ghazali diantaranya adalah:
التوبة, الصبر, الشكر, الرجاء, الخوف, الزهد, المحبة, العشق, الأنس, الرضا[14]

3.Tajalli

Tajalli berarti tersingkapnya nur ghaib,  yaitu terbukanya hijab (halangan) yang terdiri dari sifat-sifat kemanusiaan (nasut)  menuju sifat ketuhanan (lahut). Pada tingkatan ini, seseorang akan mendapatkan karunia dari Allah berupa kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan tentunya ini akan mengawali pencapaian ma’rifatullah yang didambakan oleh manusia sufi.[15]
. Menurut Mustafa Zuhri, tajalli ialah lenyapnya atau hilangnya hijab dari sifat-sifat kebasyariahan (kemanusiaan), jelasnya nur yang selama itu ghaib, fananya atau lenyapnya segala yang lain ketiak nampaknya wajah Allah.[16]
Dalam mencapai puncak ma’rifat tersebut hanya dapat diraih dengan sebuah rasa cinta dan kedekatan dengan Allah, sedangkan kedua proses tersebut harus didasari dengan kebersihan jiwa.

Jalan menuju kedekatan kepada Allah ini menurut para sufi dapat dilakukan dengan dua usaha yaitu:
1) mulazamah yaitu terus menerus berada dalam dzikir kepada Allah.
2) Mukhalafah yakni secara berkelanjutan dan konsisten menghindari segala sesuatu yang dapat melupakan Allah SWT. Keadaan ini, oleh para sufi disebut safar kepada Allah[17].

Sedangkan untuk memperdalam dan melanggengkan rasa kedekatan dengan Tuhan ini, para sufi mengajarrkan hal-hal berikut:
a)  Munajat yaitu memuja dan memuji keagungan Allah dengan sepenuh hati.
b)  Muhasabah seperti yang dikatakan Al Ghazali adalah selalu memikirkan dan merenungkan apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat.
c)  Muraqabah berarti menyakini dan merasakan senantiasa berhadapan dengan Allah SWT.
d) Kasrat al dzikr berarti memperbanyak dzikir kepada Allah.
e)  Dzikr al maut yang berarti selalu mengingat mati.[18]
b.  Mujahdah dan Riyadhah

c.   Wirid atau Dzikir

Wirid merupakan upaya maksimal pembiasaan diri untuk selalu menghampiri Allah, baik dengan bacaan, bisikan hati, maupun perbuatan. Sedangkan dzikir artinya memelihara Allah dalam ingatan, maksudnya selalu mengingat dan menyebut asma Allah.[19] , Berdasar pengertian diatas, maka dapat dipahami tentang perbedaan antara wirid dan dzikir. Apsek domain wirid meliputi: hati, perbuatan dan lisan. Sedangkan domain dzikir adalah hati, pikiran dan lisan. Menurut Al Wasiti dzikir secara berarti:
“keluar dari medan kelalaian menuju musyahadah (menyaksikan kebesaran Allah), yakni hilangnya rasa takut karena menggilanya rasa cinta kepada Allah”[20]

Dalam kalangan para sufi, dzikir tebagi atas tiga tingkatan, yaitu:
1) Dzikir lisan atau dzikir nafi itsbat yakni dengan bacaan La Ilaha Illallah. Dzikir ini mula-mula diucapkan secara pelan-pelankemudian makin cepat. Dzikir ini akan terasa meresap kedalam jiwa yang kemudian hangatnya terasa keseluruh tubuh.
2) Dzikir qalb dengan bacaan Allah, Allah. Dzikir dalam bentuk ini pada mulanya mulut berdzikir dengan bacaan Allah, Allah, diiringi hadirnya hati Kemudian lidah berdzikir sendiri, terus dengan dzikir tanpa sadar dimana kekuatan akal tidak berjalan, terjadi semacam ilham yang tiba-tiba masuk kedalam hati, seterusnya naik ke mulut hingga lidah bergerak dengan dengan sendirinya.
3) Dzikir sirr yang dinamai juga dzikir isyraf dan nafs yaitu dengan bacaan Hu, Hu. Lazimnya setelah sampai ketingkat fana dimana perasaan kemanusian lenyap dalam kebaqaan Allah seorang sufi baru sampai ketingkat dzikir ini.[21]

d.  Rabitah

Rabithah secara harfiyah berarti ikatan, yakni ikatan yang mengikat sesuatu dengan sesuatu yang lain. Rabithah dikalangan para ahli tarekat diartikan sebagai suatu wasilah yang berhubungan dengan perhatian dan kecintaan hati seseorang yang melakukan rabithah dengan yang dirabithahinya.
Rabithah menurut ahli tarekat terbagi dua, yaitu rabithah yang dilarang oleh syara’ dan rabithah yang diperbolehkan oleh syara’. Rabithah yang dilarang oleh syara’ adalah dimana orang yang melakukan rabithah berkeyakinan bahwa yang menjadi rabithah tersebut dapat memberi manfaat dan mudharat secara hakiki kepadanya, seperti halnya orang musyrik yang menjadikan berhala sebagai rabithah mereka untuk dekat dengan Allah, dimana pada hakekatnya, mereka meyakini bahwa berhala-hala tersebut dapat memberi manfaat dan mudharat kepada mereka.
Adapun rabithah yang dibolehkan oleh syara’ adalah rabithah yang tidak demikian, seperti halnya rabithah makmum dengan imam didalam shalat, dimana sah tidaknya shalat makmum tergantung kepada terpenuhi atau tidaknya syarat-syaratnya untuk menjadi makmum, tergantung kepada kepatuhannya untuk mengikuti seluruh gerak gerik shalat sang imam, selama imam itu tidak melakukan sesuatu yang membatalkan shalat.

Demikianlah halnya dengan rabithah didalam tarekat antara Murid dengan guru Mursyid atau Syaikh. Menurut ahli tarekat, rabithah dilakukan semata-mata karena Allah, sedikitpun tidak ada unsure-unsur penyembahan kepada guru Mursyid atau Syaikh. Dimana agama memerintahkan untuk menghormati dan memuliakan guru.
Jadi rabithah disini menurut ahli tarekat hanyalah membayangkan guru mursyid atau Syaikh pada saat menjalankan amalan-amalan karena kaifiat atau cara-cara tersebut didapatkan darinya. Terbayang akan guru mursyid atau syaikh pada saat akan melakukan suatu pelanggaran, karena itu diketahui lewat ajaran-ajaran yang telah didengar dari guru mursyid atau syaikh tersebut, terlihat ia marah-marah dengan pelanggaran tersebut. Jadi menurut para ahli tarekat, rabithah disini sama sekali tidak mengandung unsur mempertuhankan guru Musyid atau Syaikh.

Untuk mengikat hubungan batin dengan guru (Syaikh) itu seorang murid melakukan bai’at atu janji setia kepada guru pembimbing. Ada dua jenis bai’at yang dikenal dalam kehidupan tarekat, yakni bai’ah suwariyah dan bai’ah maknawiyah. Bai’at yang pertama adalah bai’at kandidat salik dalam mengakui bahwa guru (Mursyid) yang membai’atnya adalah gurunya, tempat ia berkonsultasi tentang berbagai masalah kerohanian, sementara sang guru mengakui pula bahwa orang tersebut adalah muridnya. Kandidat salik seperti ini tidak perlu meninggalkan keluarganya untuk menetap di dalam zawiyah tarekat untuk bersuluk atau berdzikir bersama guru. Ia boleh tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan sehari-hari sesuai dengan profesinya. Ia cukup hanya mengamalkan wirid dan berbagai amal yang lain pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Mursyid, dan dapat mengunjungi zawiyah kapan saja ia sempat.[22]
Sedangkan bai’at yang kedua adalah bai’at kandidat salik dalam mengakui bahwa ia bersedia dididik dan dilatih menjadi sufi ‘arif bi Allah. Salik yang manyatakan bai’at demikian harus meninggalkan keluarga dan tugas keduniaan. Ia berkhalwat dalam zawiyah tarekat untuk beberapa tahun sesuai yang ditentukan oleh Mursyid.[23]

e.   Zawiyah

Transmisi kebijakan tuhan yang mengalir dari mursyid kepada muridnya berlangsung disuatu tempat, ruangan atau bangunan, yang dibangun secara khusus untuk tujuan suci. Tempat ini dinamakan zawiyah, secara harfiyah berarti pojok. Istilah ini bermakna seni berpidato atau sebuah masjid kecil, sebuah tempat pengasingan untuk kepentingan keagamaan, tempat pertemuan para sufi untuk melaksanakan doa atau dzikir, dapat pula bermakna sebuah temapat bagian dari sebuah rumah yang dipersiapkan untuk melaksanakan salat.[24]

Zawiyah adalah suatu istilah yang cukup akrab ditelinga orang-orang yang menggeluti tasawuf. Istilah lain yang searti dengan kata ini dalam bahasa arab adalah ribath. Di Persia dikenal dengan nama khanaqah, jama’ at khana. Di Turki disebut tekke, istilah ini sering diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi lodges atau hospices. Di Indonesia sendiri disebut dengan nama Pondok atau pondokan.[25]
Zawiyah merupakan tempat tinggal para sufi, tempat mereka melakukan ritual, berdzikir, berdoa, salat, membaca kitab suci dan sebagainya. Awalnya, istilah ini muncul untuk menunjukan suatu ruangan di masjid yang dipakai oleh Sahabat Nabi SAW untuk beribadah, istilah ini terkenal dan sering dipakai menurut Carl W. Ernst pada abad ke-11 M di Iran, Syiria, dan Mesir.[26]

Sebuah zawiyah biasanya berbentuk bangunan besar maupun kecil, bahkan bisa ditujukan dengan sebuah makam wali yang terkait erat dengan kelompok thariqah tertentu. Ada juga yang berupa tempat tinggal sederhana yang menempel pada rumah sang Guru. Bangunan zawiyah pada periode awal yang terkenal didirikan oleh Abu Said (w. 1049) di bagian timur Iran dan zawiyah Said As Suada yang didirikan oleh Salahuddin Al Ayyubi pada tahun 1174 di Kairo.[27]
Kebutuhan akan suatu tempat khusus sebagai sebuah keharusan dalam perjalanan arif menuju Allah. Sang Mursyid yang mengajari murid-muridnya tentang tanda-tanda Nabi Muhammad SAW harus menyediakan sepenuh dirinya kepada mereka. Sebuah zawiyah idealnya mengandung bukan hanya masjid atau tempat shalat dan berdoa. Tetapi, juga memiliki ruang pertemuan besar untuk perjamuan makan, baik makanan bumi atau makanan langit, bilik kecil untuk murid sebagai tempat khalwat juga sangat penting.[28]

Daftar pusaka :
[1] H. Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, tt, hal, 236
[2] Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, terj. Sapardi Djoko, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet II, 2003, hal. 123
[3] H. M. Jamil, Cakrawala Tasawuf Sejarah, Pemikiran dan Kontekstualisasi, Jakarta: Gaung Persada Press, Cet II, 2007, hal. 119-120
[4] Moh. Mustafa, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, Cet III, 2005, hal. 280
[5] H. M. Jamil, Op. Cit, hal. 121
[6] Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Perasada, Cet II, 2002, hal. 98-99
[7] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Wonosobo: Amzah, Cet I, 2005, hal. 244
[8] Ibid
[9] Muhammad Sholokhin, Tasawuf Aktual, Semarang: Pustaka Nuun, Cet I, 2004, hal. 14
[10] Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Perasada, Cet II, 2002, hal. 68
[11] H.M Jamil, Cakrawala Tasawuf Sejarah, Pemikiran dan Kontekstualisasi, Jakarta: Gaung Persada Press, Cet II, 2007, hal. 38
[12] Ibid.
[13] Muhammad Sholikhin, Op.cit, hal. 15
[14] H. M. Jamil, Op.Cit hal. 47
[15] Muhammad Sholikhin, Op.cit, hal. 16
……………………………………………..dll.

MENYAKSIKAN ALLAH (KUNCI PERTAMA SETIAP TINGKAT TAREKAT)

Oleh : Santosoiman Wahyu
Bahasan ini adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yaitu “Urutan Ilmu Hikmah dan Sufi”. Tiada maksud apa-apa dalam pembahasan ini selain sekedar share dan memohon karunia Allah SWT. Karena minimnya dan terbatasnya pengetahuan saya jadi mohon maaf jika ada yg kurang dan tidak berkenan. Mohon dikoreksi. Karena hanya Allah SWT saja samudra ilmu dan sebenar-benarnya pemilik kebenaran. Pada Bahasan yg lalu saya menulis tentang kunci pembuka tarikah/tarekat untuk memasuki setiap tingkat. Kunci itu ada 2 yaitu : Syahadat dan Istinja.

Saya akan membahas kunci pertama (Syahadat) :
Bismillahir Rahmanir Rahim. Syahadat adalah sebuah kalimat inti dari segala inti adanya mahluk di alam ini. Dalam kalimat ini terdapat sebuah pengakuan tentang siapa Tuhan kita dan siapa yg mengabarkannya. Kita semua pasti tahu apa Syahadat itu yaitu “ Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah Rasul Allah”

Tapi apa kita tahu sebenarnya mengapa Syahadat itu menjadi kunci dari segala kunci keimanan kita kepada Allah, Menjadi kunci dari setiap tingkat iman kita kepada Allah, Kunci setiap ruang tingkat dalam hati kita. Sehingga Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ))

“Sesungguhnya Alloh mengharamkan atas neraka terhadap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah, dia mencari wajah Allah dengan (perkataan) nya.” [Hadits Shohih Riwayat Bukhari no: 425, 667, 686, 6423, 7938; Muslim no: 33, 657; dari ‘Itban bin Malik]

Orang yang bersyahadat harus disertai ilmu. Maka orang yang mengikrarkan syahadatain wajib mengetahui makna syahadatain dengan sebenarnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ}

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [QS. Muhammad (47): 19]

Sekarang kita harus menyadari makna sebenarnya dari dua Kalimat Syahadat tersebut mengapa menjadi kunci dari segala kunci kehidupan kita. Untuk membuka Ruang demi ruang yang ada di hati kita menuju Makrifatullah.

Syahadat Kunci Ruang Pertama (Syariat): Bismillahir Rahman Nirahim. Hanya Allah yg tahu. Saya coba mengulas dengan keterbatasan saya.

Pada Ruang pertama ini / level pertama dari ruang hati (Syariat). Syahadat ini adalah penentu ke Islaman Mahluk Allah. Pada ruang ini manusia bersyahadat sering kali hanya sekadar lisan / jasad tanpa mengetahui apa sebenarnya di balik kalimat yg menentukan hidup kita. Kita hanya tahu tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adlah Rasul Nya. Sehingga ada istilah Islam tapi tidak mukmin. Islam tapi tidak Salam (memberi kedamaian). Karena hanya sebatas bibir saja. Islam saya yg benar, islam kamu salah. Itu dosa, itu bidah. Mudah bagi kita mengkafirkan orang lain dan mendosakan orang lain. Sesungguh dalam kita bersyahadat itu ada ilmunya yaitu kenali dirimu maka kamu akan mengenali siapa Tuhanmu. Ada yang hal kunci Sirr yang kita lupakan dari Syahadat itu yaitu Kalimat ‘ Saya bersaksi…’ bagaimana kita bersaksi jika kita tidak melihat Allah. Bagaimana kita melihat Allah jika kita tidak mengetahui caranya dan tidak mencari pengetahuannya. Mungkinkah kita melihat Allah..jawabnya adalah Pasti. Lho bagaiman bisa, kita hanya manusia biasa kok bisa melihat Allah. Bahkan ada yg mengatakan itu mustahil dan dosa..(Masya Allah) bagaimana kita bisa bersaksi jika kita tidak melihat..kita lupa kepada Ayat Allah yang berbunyi dalam surah Al Baqarah ayat 45,46 yang artinya

“Dan Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.dan sholat itu sesungguhnya berat kecuali bagi orang yang khusuk”, kemudian “Yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhan Nya dan bahwa mereka akan kembali pada Nya” .

Arti menemui Tuhan pada kalimat tersebut tidak mengatakan pada saat kita sudah Meninggal karena disambung dengan kalimat bahwa mereka akan kembali pada Nya.. Nah baru pada akhir surat tersebut kita menunjukan keyakinan kita akan kembali / meninggal.

Pada manusia yang penuh dengan karat di hati maka hijab itu menutupi kita untuk melihat Allah. Sesungguhnya melihat Allah itu bisa dilakukan dengan jalan Melihat alam ini melihat kebesar ciptaan Nya.

Rasulullah SAW bersabda : “Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Baginda berkata, “Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha jangan menyerah karna itu sudah dijanjikan oleh Allah.

Syahadat Pada Tingkat Kedua / Hakikat : Ya Allah Ampuni Hamba, hanya Engkau lah yg Maha Tahu. Bismillahir Rahmanir Rahim

Pada tahap ini maka kita bersyahadat bukan hanya bibir tapi juga hati. Dan meyakini dengan sebenar-benarnya yakin. Kita menjadi sedikit tahu bahwa semua di dunia ini Kuasa Allah dan kita tiada daya ‘La Hawla wala Quwatah ila Billah”. Pada tahap ini Kita Bersaksi dengan dibenarkan oleh Hati kita melihat dengan Hati. Bahwa semua ada Allah di balik sesuatu. Kita bersaksi karena kita merasakan kuasa Nya. Kita dapat tahu bahwa yang Genap itu ada Ganjilnya :

Kita melihat diri kita sendiri (Kanali diri maka akan mengenali Tuhan Mu) 2 = 1+1 , 2 Untuk Manusia 1 untuk Allah : (maaf jika kadang saya sulit menjelaskannya, karena terbatasnya pengetahuan saya), saya akan coba.. 2 = Untuk Mahluk. apa yang 2 itu adalah diberikan kepada Mahluk Allah (Manusia dan Jin) : Adz Zariat 56. : laki-laki dan perempuan, sorga neraka, 2 Mata, 2 tangan, 2 kaki, 2 paru-paru, 2 ginjal, 2 buah zakar, 2 ovarium, apa-apa yang dua gunanya untuk Hablum Minanas, untuk regenerasi, apa-apa yang genap jika dikurangi satu maka akan tetap hidup karena 2-1 = 1 ( Masih ada Nyawa / Hayun ) tangan di amputasi masih tetap hidup. Artinya segala yang bepasangan adalah untuk Hablum Minanas.

1 = Al Wahid / Allah di berikan karena adanya Roh: dari bawah : Anus , Kemaluan, hati, jantung, otak, membentuk susunan lurus Alif, Satu menuju Allah. Jika dihilangkan maka hilang pula Nyawa kita. Kemaluan kita ditutup maka kita akan mati, anus ditutup sama, demikian juga dengan Jantung.

Hati : Jika rusak maka rusak juga tubuh kita/ perbuatan kita. Oleh karena itu mengapa kita kadang sulit mencari adanya Allah padahal ditubuh kita terdapat kebesar Nya. Demikianlah tanda-tanda bagi orang yang beriman.

Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya badan ini bukan punya kita maka sebagai yg diamanahkan hendaklah menjaga. Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Sesuatu yg haram bukan karena Allah membenci hambanya tetapi karena sayangnya. Khamar haram karena merusak. Syahadat pada tahap ini adalah Syahadat Jasad dan Ruh. Kita menyaksikan Allah lewat Anggota tubuh kita sendiri.

Syahadat pada Tingkat ketiga Makrifatullah. Ya Allah Ampuni Hamba Mu ini. Saya tidak dapat menerangkan tingkat ini dengan sebaik-baiknya karena memang saya kurang sekali pengetahuannya. Namun saya mencoba dengan sedikitnya ilmu saya yang saya ketahui, apabila ada yang kurang harap ditambahi dan apabila ada yg salah harap dikoreksi. Karena yang Maha Benar adl Allah SWT.

Bismillahir Rahmanir Rahim. Syahadat pada level ini bukan lagi dibibir dan dijasad tapi sudah beriring dan bahkan utk Wali-wali sampai terucap ‘Tiada Tuhan selain Aku, dan Muhammad utusan KU’ : Ibnu Arabi / Al Halaj dan syeh Siti Jenar. Sehingga pendapat tsb dianggap menyesatkan dan dihukum. Tapi saya tidak ada kuasa untuk menyalahkan atau membenarkan hal tsb. Karena sekali lagi saya tidak ada kemampuan.

Hanya saja saya berpendapat bisa saja hal itu terjadi karena Saking dekatnya Hamba dengan Allah. Seperti dalam Ayat Al Quran yang dikatakana : “Jika hambaku bertanya tentang Ku maka katakan saja bahwa aku lebih dekat dari pada urat nadi dilehermu” seperti jika kita sudah akrab sekali kadang kita mengatakan kalau ada perlu sesuatu bilang aja sama saya. Nanti saya sampaikan. Sama aja kok….nah mungkin seperti itu.

Sedangkan Untuk Baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW. Syahadat itu memang menyaksikan secara lahir dan batin sewaktu Beliau Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Bahkan pada Mi’raj tersebut Nabi Muhammad di beri Salam oleh Allah SWT. (Bacaan duduk Tahiyat). Oleh karena itu untuk menyaksikan Allah bagi Hamba Nya yaitu Sholat lah Khusuk. Karena kita akan Mi’raj dan menyaksikan Allah SWT.

“Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Gapailah dengan Ilmu. Semoga jangan sampai kita jadi orang yg dibutakan oleh Allah. Seperti dalam surah al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan: “dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.

Adat kebiasaan yang di sukai Allah

@selalu memuji alloh.Alloh pun akan memuji kita dihadapan para malaikat. @bersyukur pd alloh.@menumbuhkan rasa cinta kpd alloh.Alloh pun mencintai kita.@menegakan agama alloh.Alloh pun menjdi wakil kita di segala urusan.@haqul yakin alloh menjamin rejeki kita.Alloh pun akan menjamin rejeki kita.@tidak menganiaya makluk alloh.Maka allohpun akan menjaga tubuh kita dr berbagai bahaya. @tidak berkeluh kesah kpd makluk.Maka allohpun menjadi teman curgat yg asik bg kita. @berjiwa besar dan tdk merasa terhina walaupun ide2nya bertentangan dg orang kebanyakan.@tinggi semangat dan tidak tergoda kemewahan dunia.@kaya hati.Tidak kaget bila kaya dan tidak susah bila miskin.@menyinari hatinya dg cara bertafakur.Sehingga mampu memberi pemahaman dan petunjuk kpd org lain yg orang kebanyakan belum tahu.@slalu berlapang dada tidak goyah dg seribu alasan dan seribu ancaman.@memancarkan cahaya kebenaran dr setiap gerak lahir dan batinya.@melampaui adat kebiasaan orang lain dalam kebaikan. Misal disaat org tidur dia sholat malam.@tunduk lahir dan batinya hanya kepada alloh.

Tarekat Sufisme

Bagi kaum muslimin,TORIQOH bukanlah barang baru, meskipun tak semua orang mengenalnya, TAREKAT adalah bagian dr TASSAWUF sejak jamanya ROSULLLOH.TAREKAT atau thoriqoh adalah jalan untuk menuju ALLOH. dalam AL-QUR’AN disebutkan dalam Surat THOHA ayat 104 dan Surat JIN ayat 16, demikian pula dibeberapa hadist ROSULULLOH. bahwa tarekat diartikan dalam proses jalan untuk menemukan sebuah hakekat. dan dimasa awal, para sufi tidak menggunakan istilah TAREKAT, melainkan dengan istilah SULUK yaitu sebuah proses menuju kearah kesempurnaan batin,dan merupakan upaya pendidikan AKHLAK MULIA,sebelum mengamalkan tarekat atau suluk, seharusnya sudah memperdalam tentang TAUHID,FIQIH dan AKHLAK.di dalam KITAB IHYA’ULUMUDIN IMAM GHOZALI menulis berthorekat adalah mengedepankan kesungguhan membersihkan diri dan memutuskan hubungan dgn segala sifat yg tercela, dan hanya menumpukan harapan hanya kepada ALLOH SWT, kapan kerinduan seorang hamba kepada SANG PENCIPTA itu terobat?ketika ALLOH SWT mengaugrahkan ilmunya dan cahanya, ketika ALLOH SWT sang penguasa hati telah berkenan, dia akan memancarkan caha dan rahmadnya dalam hati yang dicintainya,itulah rahasia ALLOH SWT yg telah terbuka dan tak lagi terhalang oleh PINTU HIJAB, dan didalam proses pendekatan kepada SANG KHOLIQ ada beberapa tahapanyg disebut MAQOM/ TEMPAT yg harus dilalui,yaitu:

A. MAQOM TOBAT
B. MAQOM ZUHUD
C. MAQOM SABAR
D. MAQOM RIDHO
E. MAQOM MUQARROBAH
F. MAQOM MA’RIFAT

Proses ini cukuplah berat dalam kondisi jaman yg sudah edan ini,namun alangkah mulianya bila anda berniat membersihkan diri dari sifat2 yg bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

MAQOM TOBAT adalah pondasi utama untuk menjalani proses TAREKAT,selanjutnya dari MAQOM TOBAT hendaknya selalu mengamalkan wirid sesuai petunjuk dari seorang mursyid.sehingga dapat mencapai MAQOM ZUHUD,karena untuk pindah kesetiap tahapan sangatlah berat, oleh karena itu hendaknya selalu mengikuti TAHZIB atau latihan SPIRITUAL dr mursyidnya.
dalam MAQOM TOBAT ada 4 tahapan awal yg biasanya dilaksanakan dlm prosesi spiritual, antara lain;
1. menjaga sgala ucapan/perkataan [ sumt]
2. menyendiri untuk bertafakhur [ UZLAH]
3. berpuasa atau mengurangi makan [ SHOUM]
4. mengurangi tidur atau bangun diujung malam [SAHR]
sebenarnya masih banyak tahapan2 yg perlu dilalui, namun semua itu tergantung bagaimana seseorang memahami akan torekat itu sendiri, tp yg terpenting awal niat adalah segala-galanya untuk bs mencapai hasil yg optimal, karena dalam MAQOM TOBAT tidaklah cukup hanya sekedar dg niat saja perlu didorong keyakinan yg kuat serta tekad yg besar untuk bs menebus segala dosa maupun kesalahan dan kekurangan kita.dan inti dr tahapan ini adalah kita benar2 niat untuk membersihkan diri dgn segala kejernihan hati dn fikiran kita tanpa terpengaruh akan kondisi maupun situasi dalam prosesi tersebut. selanjutnya proses dr tahapan awal dikembangkan dengan prinsip TAREKAT yg nantinya bs membawa kedamaian disaat kita bermunajad, diantaranya adalah:

1. HUY DAR DAM [ kesadaran dalam bernafas]
2. NASR BART QODAM [memperhatikan setiap langkah]
3. SAFAR DAR WATHAN [perjalanan mistik]
4. KHOLAWAT DAR ANJUMAN [kesendirian dalam keramaian]
5. YARD KARD [peringatan untuk kembali]
6. BAZ KARD [ menjaga pemikiran ]
7. YARD DZAT [ memusatkan perhatian pada DZAT ALLOH]
prinsip ini bisa kita sandarkan untuk mencapai proses tarekat dan pencapaian dari TOBAT, UZLAH, ZUHUD, TAQWA, QONAAH [menerima apa adanya], TAZLIM [ berserah diri ],dan ketujuh prinsip ini tidak akan sempurna bila tidak melakukan pengontrolan sebagai berikut;

1. WUQUF ZAMANI; yaitu mengontrol dan mengoreksi seberapa besar ingat kita ALLOH SWT dalam menjalani hidup
2. WUQUF ‘ADADI; yaitu kontrol dalam menjalani bilangan ganjil dalam berdzikir
3. WUQUF QOLBI; yaitu kontrol dalam hati untuk selalu hadir bersama ALLOH SWT.

TAREKAT rupanya mampu MENJAJIKAN suasana hati dan jiwa yg sejuk dan tentram,bahagia secara spritual, terutama bagi mereka yg terbebani oleh berbagai masalah kehidupan dimasyarakat modern yg kering kerontang,dalam dunia yg serba sibuk sekarang ini, ada baiknya orang mengamalkan TAREKAT tapi yang sesuai SYARIAT, manusia modern perlu bermuka rohani, dgn mendekatkan diri kepada yang MAHA KUASA, dgn harap- harap cemas karena merindukan ALLOH SWT.
Dalam ISLAM memang banyak berkembang berbagai aliran TAREKAT, MUHAMMMAD MUSTOFA HILMY dalam KITAB AL-HAYYAN AL-RUHIYYAH FIL ISLAM menulis, SUFI membentuk kelompok atau aliran2 TASAWUF dengan aturan masing2 yang dikembangkan oleh para pengikutnya, beberapa kelompok TAREKAT yang muncul pada ABAD keempat HIJRIYYAH antara lain; MULAMATIYYAH [QUSYAIRIYAH], THAIFURIYYAH, KHAZARIYYAH, HALLAFIYAH, NURIYAH, JUNAIDIYAH, dan GHOZALIYYAH,
selang beberapa abad kemudian muncul TORIQoH AKBARIYAH, SUHROWADIYAH,YASAWIYAH, SYASYATIYAH, KHOLAWTIYAH,BAKHTASYIYAH,IDRISIYAH dll, dan beberapa TAREKAT yang berkembang dan banyak pengikutnya adalah TAREKAT QODIRIYAH,RIFAIYAH, SYADZILIYAH, SYATARIYAH, TIJANIYAH, dan paling besar adalah NAGSYABANDIYAH yg mempunyai pengikut terbanyak didunia,.
perbedaan perkembangan ditiap2 TAREKAT yang banyak pengikutnya dijelaskan dalam KITAB FIL THURUGIS SUFIYYAH disebutkan beberapa faktor antara lain;
PERTAMA ; perbedaan pandangan antara para syekh atau mursyid dalam memahami teks dan dimensi spiritual.
KEDUA; adanya perbedaan dalam cara maupun praktek prosesi ritual dalam berlatih TAREKAT bagi para pengikutnya.
KETIGA; adanya perbedaan dalam menerapkan pola maupun bentuk2 amalan2 ibadahnya.
KEEMPAT; munculnya sistem organisasi dikalangan para pengamal tarekat yang disebut NIZAMUL RIBARTH, ZAWIYAH.
Banyak jalan menuju kehadirat ALLOH SWT begitu seorang hamba sudah menemukan rasa cintanya kepada sang pencipta,dan memperoleh pencerahan cahaya rahmadnya, maka bisa dimaklumi jika para pengikut TAREKAT sangat peduli dengan kebenaran dan keadilan. disini kita bs mengambil sebuah kesimpulan bahwa HAKEKAT TAREKAT adalah SUCI HATI DAN TAQWA JIWA,dan disinilah fungsi TAREKAT yang sesungguhnya,yaitu menjaga kolbu dari hal2 yang mengotori. jadi, apabila hati telah terukir kalimad tauhid, ia akan malu kepada ALLOH ketika berbuat hal2 yang tidak terpuji. dan ini hanyalah seklumit dari bagian tujuan TAREKAT.

 

~ oleh sanusiz pada Mei 26, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: