pesugihan untuk Wong Cilik di Makam Eyang Qobul

pesugihan untuk Wong Cilik di Makam Eyang Qobul

Pada masa sulit, tak sedikit yang ingin jadi kaya. Lalu menempuh ‘jalan pintas’. Cara yang dipakai bisa macam-macam. Korupsi, misalnya, juga termasuk ‘by passing’. Dinilai terkutuk karena tak beda dengan menggarong dan merampok. Tapi bagi wong cilik yang ingin kaya (setidaknya cukup sandang pangan), cukup dilakukan dengan tetirah atau tirakat atawa ziarah. Makam Eyang Qobul di Gunung Patoha, Jawa Barat, banyak diziarahi untuk keperluan itu. Lika-liku berziarah di tempat itu ternyata menarik disimak.

SEKITAR 800 meter sebelum masuk desa Mahmud akan dijumpai makam tunggal yang keramat, biasa disebut Makam Eyang Qobul. Khusus diziarahi untuk keperluan mendapat nasib panjang rezeki. Syukur-syukur cepat kaya. Tidak ada yang tahu asal usul Eyang Qobul. Ada yang menyebut sebagai sahabat dari Haji Abdul Manaf atau Mahmud, yang makamnya berada di desa Mahmud. Kedua makam itu sama-sama berada di kaki Gunung Patoha. Eyang Qobul amat dihormati karena dinilai punya banyak kelebihan alias sakti. Perbedaanya, Makam Mahmud dikunjungi untuk minta berkah keselamatan, sementara Makam Eyang Qobul diziarahi untuk meminta pesugihan.

Menurut jurukunci makam Mbah Sokhib, Makam Eyang Qobul hanya boleh diziarahi pada malam Jumat Legi. “Makam Eyang Qobul memang khusus bagi orang yang menginginkan kekayaan. Tapi perlu diingat, kekayaan itu juga khusus bagi orang yang benar-benar sangat membutuhkan. Kalau ekonominya sudah cukup lalu datang ke sini untuk minta lebih kaya, tak mungkin terkabul,” katanya.

Misal ada wong cilik ingin memperbaiki ekonomi, maka Eyang Qobul akan membantu setelah melakukan ritual puasa tiga hari di makam tersebut. Eloknya, ketika Eyang Qobul memberi kesejahteraan kepada wong cilik, tidak memerlukan imbalan berupa nyawa keluarga atau hal-hal yang nggegirisi lainnya.
“Nggak ada yang namanya tumbal. Sudah banyak yang berhasil setelah datang ke makam Eyang Qobul ini. Cuman setelah kaya, tiap tahun harus menyisihkan harta untuk disumbangkan pada orang yang membutuhkan. Kalau itu dilanggar, baru ada risikonya,” tambah Mbah Sokhib.

Risiko yang harus ditanggung mereka yang kikir bersedekah juga tidak berbahaya, misal meminta korban nyawa keluarga. Risikonya hanya akan menyusut hartanya secara drastis. Atau, nasibnya jadi rudin lagi. Maka kepada yang datang kemakam Eyang Qobul, selalu diwanti-wanti Mbah Sokhib agar tak melanggar aturan itu. Mereka pun haru datang dengan hati bersih dan benar-benar memohon setulus hati pada Eyang Qobul agar membantunya.

Setelah nyekar dan membaca dzikir pada malam pertama, esoknya diwajibkan untuk puasa tiga hari. Setelah selesai ritual yang singkat dan sederhana itu, maka biasanya ekonominya lambat-laun meningkat tanpa mereka sadari.
Tapi selama melakukan ritual, bukan berarti berlangsung enjoy-enjoy saja. Tapi juga ada cobaannya. “Macam-macam godaan bisa terjadi selama melakukan puasa di Makam Eyang Qobul,” papar Mbah Sokhib.
Tidak jarang ada yang diganggu lelembut penghuni Gunung Patoha. Terkadang juga rasa lapar yang sangat saat menjalani puasa, sehingga membuat peziarah itu ingin membatalkan puasanya. Tapi bila mampu menahan godaan itu, keberhasilan akan segera terwujud.

Tanda keberhasilan ritualnya antara lain bisa dilihat bila pohon yang ada dalam Makam Eyang Qobul bergerak kencang seperti diterpa angin besar. Peziarah juga akan merasa kedinginan sampai menusuk tulang. Biasanya kejadian itu berlangsung pada malam terakhir puasa. Meski dipercaya sebagai tempat mencari pesugihan, tidak sembarang orang bisa diluluskan permintaannya. Banyak juga yang gagal mendapatkan berkahnya. Tapi kalau permintaan diluluskan, dilarang keras datang lagi ke Makam Eyang Qobul. Artinya, bagi mereka yang sudah kaya, jangan serakah meminta berkah.

“Saya sudah peringatkan kepada setiap peziarah. Kalau nekad dilanggar, justru akan ada risikonya,” kata mbah Sokhib.
Dimisalkan, seorang bapak dari Purwakarta, Jawa Barat harus kehilangan putri kesayangan. Dia dikenal sebagai orang kaya di daerahnya, tapi nekat mencari berkah ke Makam Eyang Qobul. Maka saat berpuasa menginjak hari kedua, ia melihat pocongan berdiri mendepel di pagar Makam Eyang Qobul. Pocongan itu memang hanya diam membisu. Karena tidak mengganggu dan dipikir sebagai godaan, maka ia melanjutkan ritualnya. Dua bulan kemudian bapak itu datang pada Mbah Sokhib dan mengabarkan bahwa putrinya meninggal tanpa sebab.
Sumber : Harian Pos Metro Balikpapan

Iklan

~ oleh sanusiz pada April 14, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: