pesugihan Tuyul

pesugihan Tuyul

Yang Kejam Matanya Satu

KALAU Mbah Wongsoinangun pernah mengaku bisa ‘rembugan’ dengan tuyul agar mau membantu ruwet renteng yang dialami manusia, itu karena nenek yang sudah almarhumah 3 tahun lalu ini tahu betul di mana letak asrama atau perkampungan tuyul.

Tapi pernah diungkap Mbah Wongso, tuyul-tuyul yang sering diminta tolong itu tergolong tuyul-tuyul bertabiat baik. Wajah dan penampilan tuyul tergolong baik itu pun mirip manusia normal.

Tapi tuyul yang suka merenggut nyawa manusia, atau sering disebut minta tumbal, selalu tampak aneh dan memiliki beberapa kelainan di wajahnya. Misal bermata satu, atau mulutnya tidak mendatar melainkan tegak.

Lagi pernah diungkap Mbah Wongso, pintu gerbang ‘asrama’ tuyul itu berupa sebuah batu yang terletak di kemiringan sebuah punggung gumuk atau bukit. Meski cuma bukit kecil, orang biasa menyebutnya dengan Gunung Suru, yang letaknya masih berada di dalam desanya. Untuk masuk ‘ke sana’ orang jelas harus memiliki indera keenam. Atau memiliki kemampuan paranormal. Mbah Wongso jelas memiliki hal itu. Tapi setelah nenek ini meninggal, ilmu yang dimilikinya hanya diturunkan kepada Mbak Warti (50) salah satu anaknya.

Suami Mbak Warti pun tergolong lelaki yang suka sesirih saat mudanya. Wagiman (65), suami Mbak Warti, mengaku tidak pernah tidur di dalam rumah sampai saat naik ke pelaminan bersama gadis bernama Suwarti. “Hampir setiap hari saya menyusuri beberapa sungai di daerah saya. Tidur juga di pinggir kali. Tapi kalau datang hujan, saya berteduh di dalam langgar,” ungkap Wagiman kepada Merapi belum lama di rumahnya, Jogotirto, Berbah, Sleman. Dia mengaku, selama menjalani laku prihatin, banyak mendapat piandel atau pusaka berupa tosan aji dan batu berkhasiat. “Saklaminipun kula nglampahi tirakat wonten ing pinggir kali, kula asring mireng polah tingkahipun lelembat,”. Selama dia menjalani tirakat di pinggir sungai, Wagiman juga mengaku kerap mendengar suara-suara misterius dari dunia lain. Misal suara gemerincing lampor, suara tertawa peri, dengus gendruwo dan sebagainya. Wagiman pun percaya sepenuhnya bahwa Gunung Suru merupakan perkampungan tuyul.

WATU OGAL-AGIL dinilai oleh mereka yang memiliki kemampuan paranormal sebagai pintu masuk ke dalam perkampungan tuyul. Meski letaknya mingklik-mingklik di punggung Gunung Suru yang amat terjal, tapi tidak bisa jatuh menggelinding ke bawah.

Dari zaman baheula hingga sekarang tetap di tempatnya.

Pernah sekali didongkel serdadu Belanda hingga jatuh ke kali, tapi bisa kembali ke tempat semula secara misterius.

Peristiwa itu makin menambah keyakinan Wagiman (65), bahwa Gunung Suru memang sebagai perkampungan tuyul. Tapi bagi Mbah Wongsoinangun, mertua Wagiman yang meninggal sekitar 3 tahun lalu, sudah sejak muda meyakini hal itu. Bahkan Mbah Wongsoinangun memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan para penghuni Gunung Suru. Beberapa di antara para tuyul malah ada yang diajak Mbah Wongso untuk ngenger kepada manusia. Mbah Wongso berani melakukan hal itu karena tahu bahwa para tuyul Gunung Suru bukan merupakan lelembut golongan hitam. Tidak suka menyakiti, colong-jupuk apalagi membunuh manusia. Tapi untuk mengajak mereka keluar dari asramanya bukanlah pekerjaan gampang. Hanya Mbah Wongso semata yang bisa melakukannya. Syaratnya pun tidak gampang. Hanya satu dua orang yang bisa memenuhinya sehingga tuyul Gunung Suru mau keluar kandang.

Setelah Mbah Wongso meninggal, kemampuan berkomunikasi dengan tuyul Gungung Suru sempat diturunkan kepada Suwarti (50), anak perempuannya yang diperisteri Wagiman. Kebetulan suami Suwarti juga memiliki kekuatan paranormal.
Wagiman juga mengaku pernah bertemu ular siluman Gunung Suru. “Saweripun ageng sanget. Gandheng lulut kaliyan kula, sawer wau lajeng kula bekta wangsul,” ungkap Wagiman. Katanya, ular itu amat besar. Karena jinak dengannya, lalu dibawa pulang. Tapi semalam berada di rumahnya, Wagiman bermimpi dalam tidurnya, diperintah seorang kakek untuk mengembalikan ular itu ke Gunung Suru. Wagiman menduga, ular yang jenisnya menyerupai Puspakajang itu sebagai ular peliharaan para tuyul di Gunung Suru. Karena merasa masih ingin terus bisa berhubungan dengan mereka, Wagiman segera mengembalikannya. Malam berikutnya Wagiman bermimpi lagi bertemu dengan kakek Gunung Suru. “Aku weling marang kowe, kandhanana brayatmu, pendak dina Minggu Pahing dan Jumat Kliwon aja pada kluyuran ana ing kali, sebab ingon-ingonku lagi pada saba.”

SEPERTI suara yang terdengar dalam mimpinya, Wagiman (65) anak menantu Mbah Wongsoinangun, mengaku mendapat pesan dari kakek dhanyang Gunung Suru agar warga setempat berhati-hati bila berada di sungai pada hari Minggu Pahing dan Jumat Kliwon. Menurut pesan kakek dhanyang, saat itu seluruh ingon-ingon-nya yang berada di Gunung Suru sedang diumbar mandi di sungai.

Gunung Suru sejak beberapa tahun lalu, diyakini beberapa paranormal merupakan asrama tuyul.
Termasuk diyakini Mbah Wongsoinangun (almh), Wagiman dan Suwarti (isteri Wagiman usia 50), yang ketiganya memiliki kekuatan paranormal. Kalau kakek dhanyang Gunung Suru berkata ‘sedang mengumbar ingon-ingon di sungai’, itu berarti pada Minggu Pahing dan Jumat Kliwon di sungai-sungai dekat Gunung Suru banyak tuyul ceciblon dan berkeliaran.

Wagiman mendapat berkah bisa berhubungan dengan jagad supranatural karena saat mudanya suka berpuasa. “Kejawi lampah-prihatin, kula ugi remen pasa. Antawisipun pasa mutih, Senin-Kemis, ngebleng dan pendak neton,” katanya kepada Merapi belum lama di rumahnya, Jogotirto, Berbah, Sleman. Laku prihatin yang dijalai Wagiman tidak semata-mata untuk memiliki daya linuwih. “Nanging ingkang penting, supados kula gampil lan gangsar anggen kula pados sandang pangan,” tambahnya. Maksudnya, laku prihatinnya itu lebih ditujukan agar dia mudah dan lancar dalam mencari rezeki atau sandang pangan.
Karena kuat prihatin di masa mudanya, Wagiman pun sekarang tak hanya buruh tani, melainkan tergolong petani pemilik tanah. Sawahnya relatif luas, terletak persis di sebelah utara dan timur Gunung Suru. Menurut Wagiman, gumuk yang dinilai sebagai asrama tuyul itu hingga sekarang tak ada yang menghuni.

Meski gentur puasanya, Wagiman mengaku masih ‘kalah ilmu’ dibanding isterinya. “Saestu, kula dereng menapa-menapanipun katimbang batih kula,” kata Wagiman merendah. Tambahnya pula, ‘ilmu’ yang berhubungan dengan Gunung Suru oleh Mbah Wongso hanya diturunkan kepada Suwarti, anaknya.

Kebolehan yang bisa dilakukan Mbak Warti tak hanya dikenal di Yogyakarta dan sekitarnya, tapi juga dari luar daerah. Belum lama, misalnya, Mbak Warti mendapat tamu dari Jambi, Sumatera. Bagaimana seharusnya berurusan dengan tuyul ?

PADA masa sulit seperti sekarang, banyak orang kelimpungan tergencet beban ekonomi. Saking beratnya menanggung beban, ada yang lari mencari jalan pintas untuk mengatasi masalah. Salah satunya dengan mencari pelarisan. Juga pesugihan. “Nanging ingkang dhateng panggenan kula, kathah-kathahipun namung pados pelarisan. Sanes pesugihan,” jelas Suwarti (50), isteri Wagiman (65) kepada Merapi Selasa (23/9) di rumahnya. Menurut Suwarti, orang yang datang ke rumahnya kebanyakan hanya mencari pelarisan.

Bukan pesugihan. Meski begitu, pelarisan yang dimaksud juga dengan bantuan makhluk jagad lain bernama tuyul. Dan seperti dijelaskan Wagiman, tuyulnya bukan tergolong tuyul jahat yang sering meminta tumbal nyawa. Juga bukan tuyul yang suka colong-jupuk. “Tujuanipun andadosaken angsar papan utawi panggenan usaha dados asrep lan wonten daya tarikipun,” tambah Suwarti. Maksudnya, adanya makhluk halus itu hanya untuk mengubah suasana tempat usaha seseorang menjadi ‘dingin’ dan memiliki daya tarik sehingga laris.

Menurut Suwarti, karena makhluk tersebut menginginkan suasana yang damai tenteram, maka kepada ‘pemilik’-nya berlaku larangan amat ketat. Antara lain tidak boleh memiliki hawa amarah yang berlebihan. “Ananging ingkang utami, piyantun ingkang ngingah ‘sepasang lare’ wau mboten pikantuk selingkuh. Leres ingkang jaler, ugi ingkang putri utawi semahipun,” papar Suwarti. Maksudnya, mereka yang berhasil memiliki anak asuh ‘sepasang pelarisan’ dari dunia lain tidak boleh melakukan selingkuh. Baik suami maupun isterinya.

Meski Suwarti mengaku bisa mendatangkan ‘bocah-bocah’ jagad lain untuk keperluan pelarisan, namun dia mengaku tidak memperdagangkannya. Pernyataan itu disetujui Wagiman, suaminya. “Kami tidak mengharap imbalan apa-apa. Kalau di kemudian berhasil usahanya, dia bisa mentas dari kesulitan, kami merasa ikut bersyukur. Belum lama, kami kedatangan seseorang yang berniat memberi imbalan sebanyak Rp 3 juta untuk ‘sepasang pelarisan’. Tapi isteri saya tidak mau memenuhi permintaannya. Tamu itu menunggu lama, tapi isteri saya malah tidur di kamar. Kami memang tidak berdagang untuk hal itu,” tandas Wagiman.

ALASAN kenapa Suwarti (50) dan Wagiman (65) tidak pernah memungut bayaran dari orang-orang yang meminta tolong kepada mereka, ada dasarnya. “Biasanipun tiyang ingkang dhateng mriki menika saweg nandhang susah, pramila kula mboten badhe nambah awrat susahipun kanthi nyuwun bayaran,” kata Wagiman kepada Merapi Selasa (23/9) di rumahnya.
Wagiman menyadari bahwa orang-orang yang datang ke rumahnya, biasanya sedang mengalami kesusahan atau kesulitan hidup, maka tidak mungkin Wagiman dan isteri membebaninya lagi.

Berdasar pertimbangan itu pula, Suwarti menandaskan bahwa ‘pelarisan’ yang diminta para tamunya tidak membutuhkan tumbal atau pengorbanan apa pun. Untuk membandingkan bahwa ‘sepasang bocah imut’ dari Gunung Suru jauh lebih baik dibanding ‘bocah-bocah imut’ di daerah lain, Wagiman menyebut sebuah nama, pawang tuyul yang beroperasi di wilayah Pantai Selatan Yogyakarta.
“Silakan pergi ke sana. Pasti akan dibantu dengan tarip tertentu. Mudah dan cepat terasa hasilnya, tapi risiko harus berani menanggung,” tandas Wagiman. Menurutnya, ‘bocah imut’ yang diperdagangkan itu diambil dari lokasi tertentu di Pantai Selatan, yang biasa dipakai keluyuran tuyul-tuyul jahat. Ada lagi satu lokasi yang ditunjuk Wagiman sebagai tempat mencari pesugihan yang memakai tumbal. Namanya cukup sohor, berada di satu kota di Jawa Timur.
Suwarti mengungkapkan, ilmu yang diwarisi dari Ny Wongsoinangun (almh) benar-benar ilmu alami yang dikembangkan ibunya itu. Diperoleh setelah melakukan puasa 40 hari 40 malam, tidur hanya beralas rumput segala. Turun dari gunungpun hanya mampu dilakukan dengan melorot. Pertama berbuka puasa, ibunya meminum air kelapa hijau muda dan memakan daging buahnya.

“Sebelum ibu meninggal tiga tahun lalu, ilmunya itu hanya diwariskan kepada saya,” kata Suwarti.
Untuk bisa mengadopsi ‘sepasang pelarisan’ dari Gunung Suru, selain puasa mutih selama 40 hari dan ngebleng 3 hari, harus juga menyediakan sesisir pisang raja, sapu gerang untuk bantal dan mori putih 2 meter. “Kalau semua sudah dipenuhi, lalu dibacakan mantera. Selesai mantera dibaca, maka ‘sepasang pelaris’ itu lalu dibungkus dengan mori dan kemudian bisa dibawa pulang,” kata Mbak Warti.

‘KAMAR KOS’ sebagai tempat tidur sepasang ‘bocah imut-imut’ atau tuyul, berupa sebuah almari. Ukurannya bebas. Dan seperti almari pada umumnya, harus memiliki daun pintu. Karena pada kurun waktu tertentu, almari itu harus dibuka untuk memasukkan ‘rantangan’ jatah makan tuyul berbentuk sesaji.

“Kepepetipun mboten gadhah lemari, mboten sisah ngangge ugi mboten dados punapa.
Nanging kedah wonten papan khusus kangge nyipengipun ‘batih alit’ kala wau,” jelas Suwarti (50) kepada Merapi akhir bulan lalu. Katanya, kalau memang tidak punya almari, tidak memakai juga tak menjadi soal. Tetapi harus ada tempat untuk tidur sepasang tuyul itu.

Sudah menjadi rahasia umum, ‘bocah imut-imut’ dari dimensi lain itu dikenal suka bermain-main di depan cermin. Kalau sudah keasyikan bermain cermin, menurut Mbak Warti, tuyul itu bisa lupa segala-galanya. Bahkan juga lupa pulang ke ‘kamar kos’-nya. Ujungnya, bisa hilang tak tentu rimbanya. “Maka tidak boleh dipasang cermin di dalam kamar di mana almari itu ditempatkan,” sergah Sugiman (65), suami Mbak Warti.
“Gandheng wujudipun badan alus, sesaji kangge ‘batih’ kalih kala wau awujud daging ‘kecok’ lan ubarampe sanesipun,” jelas Suwarti. Katanya, makanan untuk sepasang ‘bocah imut-imut’ itu berupa daging kecok plus beberapa sesaji. Dijelaskan Suwarti, daging kecok berupa hati ayam mentah diberi bumbu tumbar, bawang putih dan santan. Menu khusus itu tidak memakai garam.

Makanan itu tidak diberikan tiap hari, melainkan selama selapan (35 hari) sekali. “Namung, ing dinten-dinten anggoro kasih kados Selasa Kliwon lan Jumat Kliwon, prayoginipun dipun paringi sesaji awujud kembang setaman ingkang dipun wadhahi mangkok isi toya.” Menurut Mbak Warti pada hari-hari baik menurut perhitungan Jawa seperti Selasa dan Jumat Kliwon, sepasang ‘bocah imut-imut’ itu harus diberi sesajiberupa kembang setaman yang ditempatkan pada sebuah mangkuk berisi air. Selain itu juga harus diberikan sekul pethak ganda arum atau dibakarkan kemenyan.

Kalau ketika mendapatkan sepasang ‘bocah imut-imut’ tersebut dijalani dengan puasa penuh dan dilandasi hati suci, menurut Suwarti, si tuyul malah akan menyatu dalam badan si induk semang.
KARENA ilmu yang dimiliki Mbah Wongsoinangun (almh) bukan warisan, melainkan hasil dari laku spiritual amat panjang, wajar bila mengaku bisa tatap muka langsung dengan ‘bocah imut-imut’ dari dimensi lain. Beda dengan Suwarti (50), anaknya yang bersuamikan Wagiman (65), pewaris ilmu Mbah Wongsoinangun ini mengaku hanya bisa mendengar suaranya tanpa mampu melihat bentuk tuyulnya.

Menurut Wagiman dan Suwarti, siapa pun yang berhasil memiliki anak asuh sepasang ‘bocah imut-imut’ dari Gunung Suru, tidak akan bisa kaya mendadak seperti orang-orang yang memelihara tuyul pesugihan.

“Amargi ingkang ngingah ‘batih’ cacahipun kalih kala wau kedah bebakulan. Utawi dagang menapa kemawon. Menawi mboten nglampahi nyambut damel, inggih mboten pikantuk rezeki. Mboten wonten ing pundi kemawon, tiyang nganggur badhe pikantuk rezeki.” Menurut Suwarti, siapa saja yang memelihara sepasang ‘bocah imut-imut’ dari Gunung Suru harus bekerja. Bukannya bekerja dengan ngenger atau ikut orang, melainkan harus berdagang. Bekerja dengan mengandalkan inisiatif sendiri. Misal dengan membuka toko, warung, rumah makan dan sebagainya. Prinsipnya, ‘bocah imut-imut’ Gunung Suru hanya membantu agar usaha induk semang dalam mencari rezeki bisa gangsar atau lancar.

“Amargi tindak-tanduk ingkang gadhah momongan ‘batih kalih’ wau sae. Pramila ugi lajeng kathah rencang, kenalan dan langganan.” Karena perilaku sehari-hari induk semang selalu terkontrol, maka wajar bila bertambah teman akrab, banyak kenalan dan berjibun pelanggannya.

Suwarti mengaku pernah mendengar cerita tentang tuyul-tuyul yang tergolong jahat, tapi dia mengaku tidak memahami lebih jauh. “Yen soal niku, kula mboten faham,” katanya, kalau soal tuyul jahat Suwarti tidak tahu. Toh begitu, dia percaya bahwa tuyul jahat selalu minta tumbal. Andaikata pun keduanya tahu soal tuyul jahat, Suwarti dan Wagiman tidak mungkin bersedia berurusan. “Itu bertentangan dengan ajaran agama. Amit-amit, kami tidak mungkin berurusan dengan persoalan itu,” katanya.

CERITA panjang soal tuyul Gunung Suru, Jogotirto, Berbah, Sleman adalah hasil bincang-bincang tentang sepasang ‘bocah imut-imut’ yang tergolong baik. Bukan tuyul jahat seperti gambaran umum yang suka colong-jupuk dan meminta wadal atau meminta imbalan berupa nyawa manusia. Tuyul Gunung Suru digolongkan baik karena makhluk dimensi lain ini bersedia membantu orang-orang kecil agar terangkat dari kubangan hidup yang getir. Bukan berupa pesugihan, tapi hanya pelarisan. Apa yang telah diungkapkan Mbak Warti (50) dan Pak Wagiman (65), warga Jogotirto itu dapat memperkaya khazanah tentang makhluk dimensi lain.

Cerita soal pesugihan seperti yang sering terdengar di tengah masyarakat, terutama bila dikaitkan dengan peliharaan tuyul, selalu bernuansa haram. Sebab pada umumnya, selalu berhubungan dengan ‘pencurian uang’ dan ‘tumbal’. Pesugihan yang keruh dengan nuansa colong-jupuk pun bukan dominasi tuyul. Tapi juga ada cara-cara lain.
Di lereng Gunung Gede, Jawa Barat, misalnya, terdapat sebuah goa yang dipercaya sementara orang bisa membuat seseorang menjadi kaya. Tempat itu dipercaya dihuni oleh koloni siluman babi yang bisa alih-rupa menjadi wanita cantik dan sexi. Karena di dunia lain tidak ada butik atau rumah mode, menurut mereka yang memiliki kekuatan paranormal, para wanita cantik Gunung Gede itu malah tidak memakai busana secuil pun. Bagi paranormal yang suka iseng, eh, pemandangan seperti ini tentu saja bisa meneteskan air liur.

Di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah juga terdapat beberapa tempat untuk mencari pesugihan. Ada salah satu tempat yang bisa memberi pesugihan dengan cara nyegik atau ngipri. Cara ini juga dinilai haram karena ‘si pemberi kekayaan’ minta imbalan nyawa manusia seperti pesugihan lainnya. Syarat untuk mendapatkannya pun amat mudah. Cukup dengan membawa sesaji berupa kembang wangi, bunga kantil masih kuncup, menyan dan rokok ‘double-G’ bungkus merah. Tidak ada penjelasan dari Mbah Raden, jurukuncinya, kenapa warna rokok yang diminta seperti itu. Kini Mbah Raden sudah almarhum, dimakamkan di tempat itu.

Gunung Kawi juga dikenal sebagai tempat untuk mendapat pesugihan. Di Malang, ada juga tempat seperti itu, yakni di Pemandian Kera Mendit. Di Wonogiri, Jawa Tengah, ada tempat untuk mendapat pesugihan di desa Tirtomoyo. Kemudian juga di Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur. Senin depan, Merapi akan mengungkapkan tuyul-tuyul yang bergentayangan di daerah Pantura. Tuyul yang tergolong jahil ini biasa disebut memet. Berikutnya ada beberapa kiat untuk menghadapi tuyul-tuyul yang demen colong jupuk itu.
BERSAMBUNG…………

About these ads

~ oleh sanusiz pada April 14, 2011.

3 Tanggapan to “pesugihan Tuyul”

  1. Terimakasih Mbah. Atas Bantuan Pesugihan Dari Mbah Sekarang Sy Sudah Bisa Melunasi Semua Utang-utang Saya yg jumlahnya Rp.342.000.000 Setelah 1minggu Sy Gabung Dan Sisanya Akan Saya Belikan Rumah Dan Mobil. Teman-Teman Yg Ingin Pesugihan Tanpa Resiko Hub Mbah Jenggot Di No.081243485331

  2. Tidak semua jenis pesugihan harus memakai tumbal dan beresiko untuk keluarga anda, jika anda mencari pesugihan dengan hasil cepat dan aman, kami menawarkan dengan jalan memelihara 1 pasang tuyul yang kami tawarkan tidak menyusui / tidak pakai darah / tidak pakai tumbal macam2, dapat dilihat langsung saat pembelian dan tidak memerlukan sajen yang memberatkan saat memeliharanya, anda cukup sediakan kopi manis, kopi pahit, teh manis dan teh pahit..kami juga menyediakan tuyul dari golongan putih yaitu Tuyul Qharin..Tuyul tsb justru dibentuk dari kitab suci dan tirakat yang kuat..anda terima jadi, langsung pakai, tidak menyusui, tidak memerlukan kamar khusus dan lihat ditempat DIJAMIN SUKSES!! jika anda berminat silahkan hub Abang666 di 0812 8685 0666 / 0878 8685 0666 dengan sebelumnya menuliskan sms dengan format Nama # usia # Alamat # Jenis ritual # ..(MAAF KAMI HANYA MELAYANI ANDA YANG SUDAH SIAP MENTAL DAN BIAYA SAJA) atau untuk yang mau tau lebih dulu tentang syarat & biaya ritualnya silahkan buka http://www.nocturnal70551.blogspot.com..KAMI HIMBAU KEPADA TEMAN2 YANG MAU MENJALANI PROSES RITUAL DI TEMPAT KAMI AGAR TIDAK TERPENGARUH OLEH HASUTAN & SEGALA FITNAH YANG DITUJUKAN KPD KAMI DI MILLIST2 INTERNET OLEH OKNUM2 YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB,.SILAHKAN LANGSUNG HUBUNGI ABANG666 UNTUK PENJELASANNYA TTG RITUAL KARENA KAMI TIDAK PERNAH MENGADAKAN RITUAL JARAK JAUH!! Bagaimana mungkin kami mempunyai unsur penipuan jika kami siap menerima kedatangan anda secara langsung di tempat kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: